Kamis, 18 November 2010

MEMAAFKAN

Abu Abdillah al-Jadali berkata " Aku pernah bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah. Ia menjawab bahwa beliau tidak pernah bicara dan berlaku kotor. Beliau tidak pernah mengangkat suara, sekalipun itu dipasar. Beliau tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Beliau pemaaf dan lapang dada". (HR. Tirmidzi dan Ahmad)
Memaafkan adalah hal sulit untuk dilakukan, terutama bial berkenaan dengan kesalahan yang sangat berat. Padahal tidak sedikit dalil, baik itu yang disebutkan dalam Al-Qur'an maupun yang dijelaskan oleh rasulullah SAW.
Al-Qur'an menyebutkan bahwa memaafkan adalah perbuatan mulia. "Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan" (QS. Asy-Syuura:43).
Saat bersama para sahabatnya, Rasulullah SAW pernah bersabda : "Maukah kalian aku beritahu sesuatu yang menyebabkan ALLAH memuliakan dan meninggikan derajatmu?"  
Para sahabat menjawab "Tentu, wahai Rasulullah".
Rasulullah lalu bersabda : "Bersabar terhadap orang yang membencimu, memaafkan orang yang menzalimimu, memberi kepada orang yang memusuhimu dan menyambung silaturahim dengan orang yang memutuskan silaturahim denganmu." (HR. Thabrani).
Bahkan ALLAH SWT berjanji akan melimpahkan rahmat dan ampunan-NYA kepada orang yang memaafkan orang lain. ALLAH berfirman : "Dan jika kamu maafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), sesungguhnya ALLAH Mahas Pengampun, Maha Penyayang" (QS.At-Taghabuun : 14).
Oleh karena itu, memaafkan bukanlah sikap lemah atau kalah. Memaafkan adalah sikap mulia dan ksatria. Dan memang memaafkan membutuhkan keberanian dan kekuatan mental yang tidak kecil.
Rasulullah SAW bersabda : "Bukan dikatakan pemberani, orang yang cepat marah. Seorang pemberani adalah yang dapat menguasai dirinya sewaktu mara" (HR. Bukhari dan Muslim)


-------


Buletin Jum'at AL-MAIDAH
Edisi 23 Tahun XIX - 10 Jumadil Akhir 1430 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar